This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 30 Juli 2014

TENTANG AKU



Seperti biasa hari-hari yang ku lalui tak banyak berubah, masih muram seperti dulu, cuma bedanya tahun ini terlalu banyak pekerjaan yang mengandung resiko yang harus saya selesaikan. Semua ini membuat ruang gerak ku dalam bekarya (hanya untuk sendiri) malah menjadi sempit. Ya Aku lebih suka menikmati hasil karya-karya yang aku lakukan hanya untuk kepuasan sendiri (Not Published).

Meskipun dari segi materi aku sangat kesulitan sekali tapi justru aku lebih interaktif saja menjalani hidup yang memang sangat muak ketika harus berurusan dengan uang, karena yang aku rasakan defenisi kerja secara praktis sudah kehilangan maknanya, sekarag kerja lebih menitik beratkan pada sesuatu yang harus menghasilkan uang, eskakalinya bukan lagi menghasilkan sebuah karya yang nantinya akan dinikmati oleh semua orang.

Bekerja memang menyebalkan, yang justru menjerumuskan aku pada penjara tanpa teralis dan lingkar kebosanan, sehingga hidup ku pun tak ubahnya seperti robot yang sudah ditentukan hidup hariannya oleh segelintir orang yang melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak saya inginkan. Tapi atas nama bertahan hidup, keadaan memaksa aku untuk tetap bekerja, meskipun setiap bulannya aku mendapat kompensasi berupa uang yang kemudian akan aku belanjakan, itu ternyata tak mampu membeli kebebasan yang aku dambakan. Karena disisi lain juga aku seorang manusia yang pada umumnya lahir dengan merdeka, yang menginginkan kebebasan mutlak.

Entah kenapa penyebabnya akhir-akhir ini aku mengalami simulasi hidupku yang telah mencapai puncak kejenuhan yang tak berujung sehingga apapun yang aku lakukan seolah tak banyak berarti buat hidupku dan orang lain, makna hidup yang aku rasakan tak lebih berarti dari sekedar menjual dan membeli karena untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup saja harganya sangatlah mahal, ah!... rasanya memang memuakkan jika aku harus menghamba pada sesuatu yang ujungnya akan mengecewakan dan melukai perasaanku.

Untuk sekedar melepaskan segala kemonotonan hidup pun sungguh tak begitu semudah yang aku duga, sangatlah menyebalkan setiap hari aku bergantung pada rutinitas kerja dan kerja, aku tak memiliki waktu untuk hidup dan kehidupan yang aku inginkan, kebutuhan hidup memanglah tak pernah mau menunggu sehingga aku harus membayar ini dan itu, seolah tak ada yang bisa aku lakukan selain pasrah pada keadaan dan menjalaninya dengan patuh di bawah roda-roda kehidupan yang sudah ditentukan dari sebelumnya, tapi setidaknya hingga hari ini aku akan tetap mencari sudut kemungkinan pada ruang yang ketidakmungkinan, sehingga harapan ku, aku bisa terlepas dari lingkaran setan bernama rutinitas kerja, dan aku memilih untuk tidak menjadi Bajingan.

[Raja]

Sabtu, 31 Mei 2014

Aku Dan Kata-kata Yang Berhenti Pada ,


Hai kalimat yang belum tertulis.
Kemana kau?
Aku yang dihantam kecemasan ini, linglung
Musti Kujawab apa, untuk sebuah harapan : “TAMAT ?
Aku dihajar ketakutan, selembar kertas putih yang tak juga tertulis.
Karena kau tak kunjung datang.
Kepada siapa aku bertanya?
Tentang kata-kata yang tak ada,
 sedang buku-buku tebal sudah tuntas kucerna

Lalu kau sebenarnya hadir di sela-sela kerisauan
Namun tak memiliki rupa dan juga jasad

Hai kau kalimat yang tak berbayang.
Aku ini bertanya 
mengiba
 memohon 
berdoa
dan bersimpuh

Kemana kau musti kupacu, kuraih dan kutulis?

Sesak ini hati yang tiap hari jadi benalu
 yang jadi beban.
Dan yang jadi tumpuan.

Hai kau kata-kata yang tak memiliki rupa, 
tak punyakah kau hati?
Sedang disini aku meratap, menunggu, menunduk dan menyesap
Aku penulis yang lupa huruf
, yang alpa aksara
Dan sesat terhadap kalimat-kalimat
Dimana lagi aku musti tunduk duhai kata!
Apakah dalam teori-teori? Rumus-Rumus? Istilah-Istilah?
 Katakan!

Aku memuja padamu.
Duhai kata yang esa lagi kuasa
Kembalilah dalam penaku yang using
Dan kembali tertulis

karena aku sudah lelah, karena kata tak ada lagi,
Aku dan kata-kata yang berhenti pada ,
Tunjukan padaku dimana ?

Agar bisa berhenti berharap lega.