02 April 2009

6 HAL DI DUNIA


Suatu hari, Imam Al Ghazali berkumpul dengan murid muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki) :
Imam Ghazali = ”Apakah yang paling dekat dengan diri kita didunia ini?”
Murid 1 = ” Orang tua ”
Murid 2 = ” Guru
Murid 3 = ” Teman ”
Murid 4 = ” Kaum kerabat
Imam Ghazali = ”Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali Imran :185).

Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 = ” Negeri Cina ”
Murid 2 = ” Bulan”
Murid 3 = ” Matahari ”
Murid 4 = ” Bintang bintang ”
Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

Iman Ghazali = ”Apa yang paling besar didunia ini ?”
Murid 1 = ” Gunung ”
Murid 2 ” Matahari ”
Murid 3 = ” Bumi ”
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al Araf: 179). Maka kita harus hati hati dengan nafsu kita,jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

Imam Ghazali = ” Apa yang paling berat didunia”
Murid 1 = ” Baja”
Murid 2 = ” Besi”
Murid 3 = ” Gajah ”
Imam Ghazali” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah
MEMEGANG AMANAH (Surah Al Azab : 72). Tumbuh tumbuhan, binatang,gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”

Imam Ghazali = ”Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin ”
Murid 3 = ” Debu ”
Murid 4 = ” Daun daun”
Imam Ghazali = ”Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat ”

Imam Ghazali = ”Apa yang paling tajam sekali didunia ini”
Murid Murid dengan serentak menjawab = “Pedang ”
Imam Ghazali = ”Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri”

Sumber Sarikata.com

[+/-] Selengkapnya...

21 Maret 2009

Silahkan Pindah Ke Planet Sebelah


Kata Manusia aku tengah memanas. Bagiku tepatnya tengah meradang. Bagaimana tidak? Aku, satu-satunya tempat manusia menetap, berpijak, dan berlindung, disia-siakan dan diperlakukan semena-mena. Aku tidak mengada-ngada. Seharusnya diusiaku yang ke 4,65 milyar tahun (duh, rentanya aku), aku makin disayang. tetapi mari kita lihat buktinya, apa saja yang telah terjadi pada diriku sekarang?

Ozon penyelimutku kian tipis menyiratkan gurat-gurat penuaan pada wajahku. Sementara es di kutub mencair menyiratkan hujan tangis dari mataku. Semua perubahan pada diriku nytanya berdampak buruk pada mahkluk hidup yang tinggal didalam diriku, seperti manusia termasuk kalian, orang Indonesia. Tipisnya ozon menyebabkan makin panasnya hawa. Aku sering mendengar bisik-bisik yang mengeluhkan hawa kian panas. Tak hanya itu. Cuaca dan iklim berubah. Musimpun berubah. Lihat saja yang terjadi dinegara kalian yang saat ini berlangsung kemarau basah, dimana musim yang seharusnya kemarau tetapi justru terjadi hujan. Sehingga banjir dan kekeringan berlangsung di masa yang nyaris bersamaan.

Lalu, cairnya es di kutub (yang telah kehilangan es nya sebesar 10% sejak tahun 1960 berdampak pada hujan dan badai yang melanda dimana-mana di seluruh dunia. Air pasang yang menenggelamkan rumah-rumah mulai merebak di daerah pesisir pantai. Pulau-pulau kecil di negara kalian serta pulau-pulau dibelahan Asia Pasifik juga terancam akan tenggelam. Belum lagi merebaknya wabah penyakit yang siap mengancam kehidupan siapapun dimuka bumi ini, tanpa pandang bulu. Baik akibat peningkatan curah hujan maupun akibat terbawanya berbagai virus kala es kutub mencair.

Meradangnya ... maaf, maksudku memanasnya tubuhku ini disebabkan oleh sebuah efek rumah kaca. Efek ini sebenarnya tidak berbahaya, tetapi akan menjadi berbahaya bila kadar gas seperti karbondioksida yang terperangkap di dalam atmosfer terlampau banyak. Luapan gas yang membeludak tersebutlah yang memanaskan tubuhku. Seandainya buangan gas-gas tersebut dapat ditahan, dampak pemanasan tubuhku ini tak akan berjalan cepat. Tapi coba tengok saja apa yang telah terjadi di hutan-hutan Indonesia? Bangsa kalian disebut-sebut sebagai kontributor No. 3 terbesar, setelah AS dan cina, yang memperparah kondisiku yang memanas ini. Mengapa? Karena kebakaran hutan dan penggundulan hutan terjadi besar-besaran di negara kalian. Bahkan 80% hutan kalian telah gundul. Padahal kalian tahu bahwa pepohonan itu akan menyerap karbondioksida untuk kehidupannya di satu sisi dan mengeluarkan oksigen yang merupakan kebutuhan bernafas kalian di sisi lain.

Apa yang terjadi disuatu tempat pasti berdampak ke tempat belahan dunia lain. itu sebabnya tercemarnya udara, tanah dan air disuatu negara akan berdampak pada pencemaran di negara lain. Karena udara, tanah dan air merupakan nadi kehidupanku. nadi kehidupan semua mahkluk hidup. Sebab hanya ada satu bumi di semesta ini. Hanya ada satu aku. Aku seperti mahkluk hidup lainnya di semesta yang punya jiwa. Aku diciptakan sebagai tempat tinggal para mahkluk. Tapi aku butuh perawatan. Sayangnya, aku tak bisa merawat diriku sendiri. Maka jiwaku berhak senang bila di sayang dan dirawat dengan penuh kasih dan berhak meradang bila ditelantarkan. Sesungguhnya kalian, para manusia, dibekali akal agar dapat menjalankan tugas kekalifahannyadi bumi ini. Diberi amanah khusus untuk menjagaku, sang bumi, dengan imbalan ditinggikan derajatnya oleh sang pencipta Alam Semesta.

Rasanya langkah manusia untuk memperlambat kehancuran bumi dengan global warming, reboisasi dan corbon trade, belumlah cukup. Rumah terapung yang dibuat Belanda untuk mengantisipasi fenomena semakin tingginya permukaan air laut, juga rasanya belum menjawab permasalahan yang ada. Kontribusi kalian untuk menyelamatkan diriku, ya setidaknya dapat memperlambat dampak pemanasan diriku, sebenarnya bisa lebih terasa bila manusia mau melakukan gerakan hemat energi. Hemat listrik dan hemat pemakaian kendaraan bermotor. Karena gas karbondioksida merupakan hasil buangan bahan bakar fosil baik untuk pembangkit tenag listrik maupun untuk energi alat tarnsportasi. Kontribusi itu harus dilakukan sekarang. Ya, sekarang. Tidak besok. Apalagi hari kemudian.

Namun kalau boleh aku menghimbau, aku ingin partisipasi dari para ilmuwan atau orang-orang yang diberikan kelebihan kemampuan dalam berpikir. Peraslah otak dan tekunlah dalam berbagai percobaan untuk menemukan alat yang dapat menunda efek penuaan pada wajahku. Kalau bisa dalam keadaan "stadium lanjut" seperti ini, temukanlah alat yang benar-benar dahsyat agar aku terselamatkan. Sesungguhnya aku sangat tersinggung bahkan terpukul mendengar isu bahwa manusia justru sibuk mencari planet lain yang layak huni sebagai alternatif. Lihat saja kabar dari banyak ilmuwan, entah itu dari Amerika Serikat, dari Chili, dari manapun juga yang menemukan planet eglise ini dan itu. Kalau yang seperti ini justru dianggap sebuah temuan yang luar biasa, silahkan saja pindah ke planet sebelah. Aku tak melarang.

[+/-] Selengkapnya...

16 Februari 2009

Dilema Menjadi Pegawai Negeri

Perubahan sistem perpolitikan Indonesia yang diawali proses reformasi, membuka kebebasan setiap individu untuk mengekspresikan diri. Namun sayang, perubahan itu belum diikuti oleh perubahan sikap mental yang baik. Akibatnya, demokrasi yang diharapkan tidak lebih sebagai ajang demo-crazy dan kebebasan berubah menjadi 'kebablasan'. Imbas perubahan ini juga sangat dirasakan oleh pegawai negeri sipil (PNS) khususnya pegawai di lingkungan pemerintah daerah.

Meniti karir sebagai PNS baik di pusat maupun daerah, tidak semudah yang dibayangkan orang. Banyak tahap penjejangan yang harus dilalui seorang pegawai untuk menuju puncak karir. Pegawai harus terus mengembangkan kemampuan melalui program diklat berorientasi kompetensi maupun pendidikan formal di perguruan tinggi. Berbeda dengan koleganya yang 'bekerja' di lembaga legislatif ataupun jabatan politis lainnya, yang sementara ini relatif persyaratan diklat dan pendidikan formal lebih sederhana namun penuh spekulasi dan cenderung manipulatif dalam perjalanan karirnya.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 2003 disebutkan, pembina PNS di daerah adalah gubernur untuk propinsi, bupati/walikota untuk kabupaten/kota yang ketiganya notabene bukan jabatan karir tetapi politis. Nuansa politis yang sangat kental pada jabatan tersebut, dapat memicu kebijakan yang sarat kepentingan. Tak terkecuali kebijakan dalam pembinaan pegawai negeri. Sebagai pembina kepegawaian, kepala daerah dapat melakukan intervensi terhadap penempatan dan pengangkatan pegawai pada jabatan tertentu tanpa memperhatikan tingkat penjejangan dan kompetensi yang dimiliki pegawai tersebut. Hal ini sering dilakukan khususnya oleh kepala daerah yang bukan berlatar belakang birokrat.

Posisi Pegawai Negeri (PNS).
Posisi pegawai negeri menjadi sangat strategis dengan sistem pemilihan langsung kepala daerah yang mulai diberlakukan pada 2005. Pegawai negeri sebagai penggerak mesin birokrat dapat dimanfaatkan oleh kandidat untuk memuluskan jalan menuju istana sebagai 'raja kecil'. Jangkauan lengan birokrat sampai masyarakat bawah yang dimaksudkan untuk pelayanan masyarakat, akan sangat efektif juga digunakan untuk meraup dukungan masa bagi kepala daerah yang ingin terpilih kembali untuk kedua kalinya. Strategi yang digunakan adalah dengan menempatkan pegawai yang menjadi tim suksesnya untuk menduduki jabatan strategis tanpa memperhatikan kompetensinya.

Kondisi tersebut bertambah runyam apabila di dalam pemerintahan sendiri ada kandidat lain yang juga mempunyai tim sukses dari pegawai. Akibatnya, pegawai negeri yang seharusnya netral menjadi terkotak-kotak dan membuat suasana kerja tidak lagi kondusif. Tanpa harus meningkatkan kompetensinya, dengan menjadi tim sukses seorang pegawai dapat mencapai jenjang lebih tinggi apabila kandidat yang didukung berhasil menduduki jabatan politis (kepala daerah).

Kondisi ini dapat mengakibatkan menurunnya idealisme untuk menjadi pegawai profesional dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik. Pemanfaatan pegawai negeri sebagai bagian sistem pemerintahan dari kepala daerah yang masih berkuasa, dapat juga dilakukan oleh kandidat di luar pemerintahan. Pegawai negeri yang kebetulan mendapat kepercayaan untuk menjalankan kebijakan dalam suatu kegiatan pembangunan, dapat dijadikan sasaran antara untuk menjatuhkan kandidat yang sedang berkuasa. Sebagai sasaran antara, salah satu risiko terberat yang harus dihadapi pegawai tersebut adalah terkait masalah hukum. Sementara itu, perlindungan hukum yang sudah selayaknya diberikan sebagai bekal melaksanakan kebijakan masih relatif minim. Akhirnya, pegawai tidak lebih menjadi tumbal yang harus dikorbankan dalam suatu pertarungan elit politik, ataupun menjadi sapi perahan oknum yang tak bertanggungjawab. Keadaan demikian apabila berlangsung terus menerus, akan membuat semangat pengabdian seorang pegawai menjadi kendor dan lambat laun pemerintah akan kehilangan banyak tenaga potensialnya.

Seringkali terjadi pegawai tergagap-gagap dalam suatu rapat kerja dengan anggota dewan yang terhormat bukan karena ketidakmampuannya, tetapi akibat argumentasi objektif yang dikemukakan kandas oleh prinsip 'pokoknya' anggota dewan. Kondisi ini harus dipikul pegawai sebagai risiko hubungan antara 'pembantu' (abdi masyarakat) dengan 'tuannya' (wakil rakyat) yang terkadang melecehkan batas intelektualitas.

Perubahan status dari masyarakat biasa menjadi anggota dewan yang terhormat secara instan dapat membuat orang lupa diri. Pengalaman lalu menunjukkan, ketidakberdayaan pegawai pemerintah daerah dimanfaatkan dewan untuk memanipulasi peraturan yang mengakibatkan banyaknya kasus korupsi dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) oleh anggota dewan. Berdasarkan data terakhir dari Kejaksaan Agung, tercatat sekitar 50 persen kasus korupsi di Indonesia dilakukan anggota dewan. Sering juga 'sang abdi' yang sudah bertugas puluhan tahun, harus mengalah kepada tuannya setiap dilakukan pembagian aset daerah yang strategis.

Peran KORPRI
Korpri merupakan satu-satunya organisasi PNS di Indonesia dan masih bersifat sentralistik. Kebijakan organisasi masih ditetapkan pengurus pusat. Sudah selayaknya kebijakan yang dibuat pengurus pusat dapat dirasakan langsung oleh anggotanya yang banyak tersebar di strata bawah. Bukan kebijakan yang berorientasi ke atas seperti pemberian diskon bagi anggota korpri untuk menginap di Hotel Indonesia, terbang dengan pesawat Garuda Indonesia dan lainnya yang masih merupakan angan-angan bagi kebanyakan pegawai. Keberadaan Korpri saat ini harus mampu menjawab tantangan yang dihadapi anggotanya. Hal ini perlu dilakukan agar pegawai negeri tidak lagi menjadi bulan-bulanan petualang politik dan oknum tak bertanggung jawab. Ketika perlidungan hukum yang diberikan pemerintah belum memadai, maka Korpri dapat membentuk lembaga bantuan hukum sebagai payung bagi pegawai yang sedang melaksanakan tugas. Inilah salah satu wujud kepedulian Korpri dalam memberikan kesejahteraan batiniah bagi anggotanya, selain kesejahteraan lahiriah yang lain.

[+/-] Selengkapnya...

13 Februari 2009

Mengapa Begitu Sulit Memberikan Pujian

Photobucket
Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Lelaki, Direktur sebuah perusahaan besar yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."

Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi saya."

Setiap manusia, apapun latar belakang nya, memiliki kesamaan yang mendasar : ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.

Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.

Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah.

Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya. "Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!"

Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?

Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.

Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.

Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis : L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.

Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.

Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko memeriksa ratusan barang : binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"

Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.

Kesalahan ketiga? disebut paradigma paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label : orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya : kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.

Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.

Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai : istri, pembantu, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko, pengamen, penjual koran maupun pengemis sekalian.

Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan tukang parkir menjawab ucapan terima kasih saya dengan doa, "Hati-hati di jalan Pak!" Begitu juga dengan Pengamen dan Pengemis membalas ucapan terima kasih kepada saya dengan doa, "Semoga murah Rezeki nya pak, semoga rezeki bapak akan melimpah, semoga segala kebaikan bapak akan dibalas oleh Allah" Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

Pujian memang mengandung energi sangat dahsyat yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa dimanusiakan.

Semoga Bermanfaat

[+/-] Selengkapnya...

07 Februari 2009

Belajar Dari Lebah

BELAJAR DARI LEBAH


(Lebah menjadi obyek penelitian menarik para ahli Bionik)

Didalam Al Qur`an ada dua surat yang memakai nama serangga, yait surat An Nahl (Lebah) dan An Naml(Semut). Sejak berabad-abad, lebah dijadikan contoh teladan bagi pekerja yang rajin, perilaku hidup bersama secara rukun dan gotong royong. Selain peternak lebah, yang meneliti lebah untuk mendapatkan bibit unggul, agar panen madu makin banyak, juga sejak lama para ahli biologi dan para pakar bionik meneliti binatang kecil yang cerdas ini.

Banyak sifat menarik dan kemampuan teknik alami lebah yang menarik minat para peneliti. Misalnya saja, bagaimana komunikasi di dalam sarang, bagaimana mengatur suhu sarang agar tetap nyaman, dan mengapa sarang lebah terdiri dari rangkaian panel berbentuk segi enam. Selain itu para peneliti mempertanyakan,apakah benar lebah adalah pekerja yang rajin?

Jika melihat bagaimana kawanan lebah terbang bolak-balik, dari sarang hingga ke wilayah dimana bunga bermekaran, sampai beberapa kilometer dari sarangnya, untuk mengumpulkan nektar. Jawabannya tentu saja ya. Tapi penelitian selanjutnya menunjukan, frekuensi penerbangan lebah pencari makan, ternyata hanya 30 persen dari kerja hariannya. Apa yang dilakukan lebah ini, jika mereka tidak mencari makanan? Apakah mereka bermalas-malasan saja di dalam sarangnya?

Jika dilihat sepintas, kelihatannya memang begitu.Lebah yang tidak mencari makan, biasanya berada di dalam panel segi enamnya, seolah tidak melakukan apa-apa. Apakah memang lebah-lebah ini bermalas-malasan di sana, seolah-olah istirahat tidur siang? Tapi tunggu dulu, jangan tergesa-gesa menuduh.

Penelitian selama beberapa tahun, yang dilakukan Prof. Jürgen Tautz, peneliti perilaku lebah dari Universitas Würzburg di Jerman, menunjukan hasil yang amat mencengangkan. Penelitian yang dibantu peralatan canggih, seperti sensor panas, mikrochip yang dapat ditempelkan ke tubuh lebah, atau penala getaran, menunjukan bahwa lebah-lebah yang kelihatannya sedang tidur siang itu, sebetulnya bekerja lebih keras ketimbang mencari makanan.

Pengatur suhu

Lebah pekerja ini, sebetulnya tidak beristirahat, melainkan sedang bertugas menjadi mesin pengatur temperatur di dalam sarang. Sejak lama, para peternak lebah mengetahui, bahwa di dalam sarang lebah, suhu udara tetap konstan rata-rata 35 derajat Celsius, baik di musim dingin maupun di musim panas. Rahasia temperatur yang konstan itu, ternyata ada pada lebah-lebah itu sendiri. Lebah yang tidak bekerja mencari makan, bertugas di dalam sarang, menggerakan tubuhnya seolah terbang, sehingga terbentuk panas. Panas tubuh inilah yang berfungsi sebagai regulator temperatur di dalam sarang.

Kerja menjadi pengatur suhu, ternyata lebih berat dari tugas mencari makan. Penelitian Prof.Tautz menunjukan, rata-rata setiap 20 menit sekali, dilakukan pergantian tugas mengatur suhu sarang. Lebah yang kelelahan, diganti oleh lebah yang masih segar. Begitu seterusnya. Juga terdapat hal menarik dari temperatur sarang lebah ini. Pengukuran secara teliti menunjukan, ada bagian-bagian sarang yang suhunya jauh lebih tinggi dibanding suhu rata-rata. Di sebagian lokasi, bahkan dapat mencapai suhu sampai 43 derajat Celsius. Bagi manusia, suhu tubuh setinggi itu, sudah berarti kematian. Rupanya, lokasi-lokasi yang suhunya lebih tinggi itu adalah mesin penetas telur. Di lokasi ini, lebah-lebah pengatur suhu, bekerja lebih berat lagi,karena harus menciptakan panas lebih tinggi.

Tugas memanaskan sarang, sama beratnya dengan mendinginkan sarang. Jika musim panas dan suhu sarang terlalu tinggi, lebah pengatur suhu berubah menjadi semacam mesin pendingin. Bagi lebah, mempertahankan suhu yang nyaman bagi koloninya, merupakan tugas sehari-hari, hasil evolusi selama ribuan tahun. Akan tetapi bagi manusia, terutama ahli Bionik, pola teknik dalam sarang lebih itu menjadi amat menarik. Misalnya saja pola semacam itu dapat digunakan di bangunan modern, baik yang bertingkat tinggi maupun yang strukturnya rumit, untuk menciptakan suhu yang juga nyaman. Selain itu, juga diharapkan dapat dicontoh penggunaan energi yang efisien, seperti di sarang lebah.

Panel sarana komunikasi

Juga para arsitek dapat menarik pelajaran dari bentuk sarang lebah, yang terdiri dari panel-panel berbentuk segi enam. Panelnya terdiri dari dinding yang tipis, tapi di setiap sudut pertemuan dinding, dibentuk semacam lapisan penguat. Sebelumnya, tidak ada insinyur bangunan yang dapat menerangkan, mengapa lebah dapat membuat struktur bangunan yang sedemikian ideal. Ternyata bentuk panel segi enam itu, selain sangat stabil, juga berfungsi sebagai pengatur temperatur dan komunikasi di dalam sarang.

Panel-panel segi enam, lebih mudah didinginkan atau dipanaskan oleh masing-masing lebah. Bentuk segi enam menjadi amat ideal sebagai mesin penetas, atau juga sebagai gudang penimbun makanan. Madu yang disimpan di panel segi enam itu, dapat diatur suhunya dan disimpan sesuai kebutuhan. Yang juga tidak kalah pentingnya, panel-panel segi enam yang tersusun rapi itu, berfungsi sebagai jaringan komunikasi antar lebah. Prof. Tautz secara berkelakar menyebutnya sebagai jaringan komunikasi sarang lebah. Komunikasi dilakukan dengan getaran, yang secara efektif diteruskan dari satu panel ke panel lainnya. Di dalam sarang lebah, lebah berkomunikasi dengan getaran, bukannya dengan komunikasi visual.

Sejak ahli biologi Jerman, prof. Dr. Martin Lindauer beberapa dekade lalu membuat film "tarian lebah", para peneliti terus meneliti komunikasi lebah ini. Mula-mula semua peneliti terpesona dengan tarian lebah ini. Mereka menganggap tarian inilah cara berkomunikasi utama. Tapi kemudian disadari, lebah di dalam sarang sebetulnya tidak dapat melihat tarian lebah pekarja di pintu masuk sarang. Kalau bukan tariannya, jadi apa yang menjadi cara berkomunikasi antar lebah?

Getaran bukan tarian

Penelitian yang dilakukan para peneliti biologi di Perancis, menggunakan kamera berkecepatan tinggi dan peralatan penala getaran yang disebut laser Dopler-Vibrometer menunjukan, ternyata efek getaran merupakan cara berkomunikasi antar lebah. Jika lebah pekerja menari di depan pintu masuk sarang, dibangkitkan getaran dengan frekuensi 270 getaran per menit. Kamera merekam gerakan lebah di dalam sarang. Mereka ternyata relatif tidak bisa bergerak bebas. Namun bisa merasakan getaran yang diteruskan oleh panel-panel sarang berbentuk segi enam. Inilah satu lagi keunggulan sarang lebah.

Karena itulah, mengapa Tautz menjulukinya sebagi jaringan komunikasi sarang lebah. Lebah lain yang tertarik getaran, akan bergerak ke pintu sarang dan melakukan kontak dengan lebah penari. Sarang lebah dari kotak kayu buatan peternak lebah, ternyata mengganggu kelancaran komunikasi dengan getaran ini. Tetapi lebah juga cerdik. Mereka membobol sarang dari kayu di berbagai tempat, agar laju getaran masih tetap dapat disalurkan merata ke seluruh sarang.

Namun penelitian gencar selama ini, belum mampu memecahkan semua rahasia lebah. Misalnya saja bagaimana rahasia kemampuan terbang lebah?. Sebab ditinjau dari ilmu aerodinamika, sebetulnya lebah tidak mungkin bisa terbang. Atau juga bagaimana lebah dapat mengatur umurnya? Sebab di musim panas umur seekor lebah maksimal enam minggu, namun di musim dingin bisa mencapai 10 bulan. Melihat kecerdasan kelompok lebah, sejumlah ahli bionik juga mendapat ide, mengembangkan robot seperti lebah "apisoid", untuk tugas di luar angkasa. Sekali lagi terbukti, manusia harus tetap banyak belajar dari alam, misalnya dari koloni lebah.

[+/-] Selengkapnya...

RAJA PRIBUMI © 2008. Design by :Blogger Templates 2009 Gallery Blog